KabarOto.com – Begitu mendengar kata scrambler, di pikiran para biker pasti akan terlintas bayangan sebuah motor kekar. Berbalut ban berulir “tahu”. Plus knalpot menjorok ke atas. Gahar. Tapi anggun. Klasik.

Beberapa tahun belakangan, penggemar modifikasi scrambler makin banyak. Dengan bahan Yamaha Scorpio, Honda Tiger, Honda GL, Suzuki Thunder dan lainnya, para pecinta modifikasi berlomba-lomba membangun sebuah scrambler.

Semakin banyaknya penggemar modifikasi klasik, membuat Cleveland CycleWork (CCV) percaya diri mengeluarkan scrambler standar pabrikan untuk pasar Tanah Air.

Scrambler buatan pabrikan asal Amerika Serikat itu adalah Ace Deluxe dan Ace Scrambler. Keduanya sama-sama bernuansa scrambler, namun Ace Deluxe adalah seri yang lebih standar.

KabarOto.com berkesempatan menjajal ketangguhan Ace Scrambler dalam touring Tangerah-Cileteuh, Sukabumi beberapa waktu lalu. Bagaimana performanya?

Scrambler sejatinya bisa dikatakan motor segala medan. Menerabas medan berat: OK. Buat kebut-kebutan: juga OK!

Menilik dari beberapa referensi, sejarah Scrambler bermula sekitar 1920an di Inggris. Nama scrambler diambil dari nama sebuah ajang balapan sepeda motor di Negeri Ratu Elizabeth itu.

Balapannya unik. Pembalap yang berhak menjadi pemenang adalah yang memperoleh catatan waktu tercepat dari jarak yang sudah ditentukan. Tapi, bebas.

Bebas dalam arti boleh memilih lintasan apapun. Boleh menerabas hutan. Perbukitan. Gunung. Jalanan aspal atau tanah. Batu-batuan. Dan lumpur sekalipun. Yang penting: paling cepat sampai di titik yang ditentukan! Seru.

Nah, kalau mau melibas jalanan ekstrem, apa iya motor yang digunakan masih standar? Jelas tidak!

Karenanya, para pembalap memodifikasi tunggangannya. Tujuannya agar kuda besinya melahap semua medan yang hendak diterjang.

Bannya di ganti dengan ulir tahu kotak-kotak. Posturnya ditinggikan guna mendapat ground clearance lebih tinggi. Biar nggak nyangkut di gundukan.

Knalpotnya ditinggikan. Jok ditipiskan. Alhasil, scrambler terlihat urakan tapi tetap enak dilihat.

Bentuk standar Ace Scrambler sudah scrambler banget. Namun ada beberapa yang berbeda. Misalnya knalpot. Knalpot Ace Scrambler masih berada di bawah layaknya motor-motor non scrambler.

Bisa jadi, tujuannya, agar paha pembonceng tak merasakan hawa panas.

Dari pandangan pertama, motor ini terlihat nyaman dikendarai. Joknya panjang. Lumayan tebal.

Setangnya relatif tinggi nan lebar. Tidak berlebihan bungkuknya. Tak terlalu tegap juga.

Posisi pijakan kakinya juga ok.

Benar saja. Begitu KabarOto menggeber motor ini ke Cileteuh posisi dudukan motor ini tak bikin pegal meski diajak jalan jauh. Jalanan Tangerah-Cileteuh jaraknya sekitar 200 km.

Ace Scrambler yang memiliki tinggi dudukan 785 mm begitu pas untuk postur rata-rata orang Indonesia yang tingginya 166-175 cm.

Kenyamanan ini juga didukung dengan kaki-kaki yang menggunakan pelek 17 inch di kedua rodanya. Ban yang membalutnya berukuran 110/70-17 di bagian depan. Sedangkan di belakang berukuran 130/70-17.

Jenis bannya pun dual purpose. Jadi, di jalanan aspal oke. Di jalanan berpasir ban ini juga tak kehilangan daya cengkeramnya.

Sangat cocok dipakai ke Cileteuh yang di beberapa jalannya masih rusak dan berpasir.

Berbeda dengan saudaranya Misfit 250 yang sudah menggunakan sokbreker upside down, sokbreker depan Ace Scrambler masih teleskopik. Meski terasa lebih sedikit keras, namun itu tak menjadi masalah. Seperti itulah sensasi menunggangi scrambler.

Begitu masuk kawasan Cikidang, Sukabumi yang mulai berkelak-kelok dengan tanjakan dan turunan, kami mulai menemukan karakter Ace Scrambler yang asyik.

Memang, Ace Scrambler tidak bisa dikatakan sangat powerfull di tanjakan. Motor dengan berat 125 kilogram ini mengusung mesin 250 cc single silinder berpendingin udara. Dengan kekuatan itu, saat menemui tanjakan Ace Scrambler, tak jauh seperti motor kelas 250 lainnya.

Biker harus mengurut gas dari gigi bawah untuk bisa menanjak.

Tapi, bila dibanding dengan saudaranya Misfit 250 yang memili bobot lebih berat (144 kilogram), Ace Scrambler relatif lebih lincah diajak bermanuver di tanjakan dan turunan berkelok.

Berkat rancangan bore dan stroke, 67 mm x 65 mm, karakternya sedikit overbore demi tenaga di putaran menengah dan atas.

Nah, bila biker sudah menemukan momentum putaran menengah-atas saat melahap tanjakan, Ace Scrambler ini akan terasa enaknya. Bisa terus melesat. Asal tak kehilangan momentumnya.

Biker juga tak perlu khawatir dengan sistem pengeramannya. Cukup mumpuni. Sudah menggunakan cakram single disc di depan dan belakang.

Sedikit perlu diperhatikan adalah, biker harus berhati-hati saat bermanuver di atas kecepatan 60 km di jalanan turunan berkelok. Jangan sampai kehilangan kendali.

Memang dengan spek ini, biker tak bisa terlalu berharap banyak untuk melakukan manuver ekstrem dijalanan yang ekstrem pula.

Tapi, percayalah. Menunggungi Ace Scrambler memang punya gaya tersendiri.

Dengan motor yang relatif ringan, ditambah posisi riding yang pas, plus setang melebar, biker seolah bisa menakhlukkan jalanan berkelok Cileteuh dengan penuh keanggunan.

Di jalanan akan banyak pasang mata yang tertuju pada kegaharan dan keindahan motor klasik ini. Belum lagi, jika biker menyematkan knalpot dengan karakter suara yang khas motor besar: Blarrr…..

Anda ingin bersenang-senang dengan motor serba bisa dengan gaya klasik? Jangan hilangkan Ace Scrambler dalam daftar list Anda! (kuh)

Sumber: https://kabaroto.com/post/read/test-drive-menaklukkan-perbuktikan-cileteuh-dalam-keanggunan-ace-scrambler